Politik

Gue bukan orang yang suka sama dunia politik atau goyang itik, tapi memperhatikan politik dengan seksama. Korupsi anggota dewan, artis cerai, cowo yang ini di gosipin sama cowo yang ini. Ya walaupun lebih banyak nonton acara gosip daripada berita, tapi memperhatikan acara tentang politik dengan baik.

Memang politik Indonesia punya sistem yang bersih tapi aparatnya yang kotor. Makanya gue kalo ngomong politik sama ayah gue, selalu ketemu kalimat, ‘politik itu kotor’. Sebenarnya sistemnya bersih tapi aparatnya memang kotor. Walau ga semuanya sekotor kamar gue, tapi yang jelas karena lebih banyak yang kotor daripada yang tidak, makanya cap kotornya lebih kental.

Waktu gue masih kecil, cita-cita jadi presiden udah gue tanamkan. Mungkin karena televisi, akhirnya dulu bercita-cita jadi presiden. Sampai galau antara mau jadi pemain bola macam kapten Tsubasa atau mau jadi presiden. Menurut gue keren, jalanan cuman punya kita, negara segede ini punya kita, pacar orang punya kita. Pokoknya semuanya udah jadi milik kita deh.

Lalu sewaktu SMP, jamannya kencing udah ga bisa sembarangan lagi tapi ingus masih kemana-mana, gue mulai berpikir sebenarnya jadi presiden ga sekeren perkiraan gue waktu SD. Entah kenapa, gue malah melihat politik itu seperti dunia yang lebih menakutkan. Rasanya kalo udah masuk dan terjerumus ke dunia politik, keluarnya susah. Musti rehab dulu, sidang sana sini, lalu ke penjara. Mirip pecandu gitu ya jadinya.

Akhirnya pada saat SMA dan kuliah sekarang, gue beneran ga suka sama perpolitikan. Menurut gue percuma kalo 1 aparat bersih, tapi sisanya masih banyak yang mau korupsi. Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan kata Vetty Vera. Tapi menurut gue politik kita masih bisa di selamatkan. Asalkan, ada 1 orang yang bisa mempengaruhi banyak orang untuk berkomitmen bersama memperbaiki politik kita jadi lebih baik.

Sayangnya, setelah menatap generasi setelah gue, kayaknya bakal susah menemukan orang seperti yang gue sebutkan di atas. Karena anak sekarang lebih banyak yang kepengen jadi boyband atau girlband. Ya pada intinya anak sekarang kayaknya mulai termakan sama teknologi yang terus datang sampai lupa bahwa negeri mereka sendiri, tanah yang mereka injak pertama kali, tanah dimana mereka kencing atau boker sembarangan, tanah dimana mereka meneteskan ingus pertama kali, mulai hancur. Walau ga semuanya kayak gitu, karena gue percaya, masih ada yang kepengen negerinya lebih baik.

Yasudahlah, mungkin karena terlalu aneh membaca tulisan gue yang biasanya ga serius, malah jadi superius gini. Gue cuman mau bilang, sebenernya gue juga peduli sama negeri sendiri walau kadang ngomong negatif tentang pemerintah. Karena kalo bukan kita yang merubah negeri ini, siapa lagi ?