Hello 2016 !

Yap. Hellonya baru sekarang padahal tahun barunya udah lama. Ya namanya persiapan juga perlu waktu, coy! Ijinkan saya untuk review 2015 doeloe biar afdol. Banyak yang sudah saya lalui selama setahun, mulai dari A sampai kembali ke A lagi. Seperti kemudi putar (atau apalah namanya). Pokoknya banyak lah. Beberapa yang penting:

  • Akhirnya mulai regular pakai Sass. Entah proyek besar atau eksperimen kecil-kecilan.
  • Rasio begadang turun, walau rasio minum kopi, ngidam Beng Beng Maxx, nonton bola, baca buku masih menggebu.
  • Lebih sering bikin post di blog yang paling ga berguna sepanjang sejarah peradaban manusia.
  • Koleksi musik membengkak dengan ganasnya. Masih ingat pada awal 2014 ukuran folder musik cuma 4-5gb. Akhir 2015 langsung melonjak ke 20gb+. Kayaknya perlu HD yang 1 terabyte biar lega.

Nah sekarang rencana saya buat 2016. Ini penting, biar kalian bisa mengingatkan saya kalau lupa.

Lulus kuliah memang penting, tapi….

Padahal udah hampir bau jadi penunggu kampus, tapi jujur aja saya ga pasang target lulus tahun ini. Entah kenapa, aneh kan. Saya lebih milih untuk memikirkan masa depan Indonesia.

Enggak lah, becanda

Iya cuman becanda. Doa’in aja saya resmi jadi sarjana tahun ini biar cepat jadi pengangguran :

Libsass

Port dari Sass ke C (kalo ga salah sih ya). Katanya sih lebih kenceng daripada Sass asli yang ditulis dalam bahasa Ruby. Akhirnya jatuh cinta juga. Entah nanti kayak gimana tapi saya udah fix bakal beralih dari Ruby Sass ke Libsass. Walaupun masih agak gagap kalo pakai Node.


Migrating

Saat ini masih menggunakan netbook mini yang mulai keliatan usang padahal masih sangat bagus dan sangat gampang buat dibawa kemana-mana. Masalahnya ini Netty (nama yang saya kasih buat netbook saya) mulai ribut. Kayaknya ada masalah sama kipasnya yang mungkin udah disesakin debu sama jenis kotoran lainnya termasuk mantan. Nah loh bajingan, kenapa mendadak jadi kasar gini.

Ya kayaknya bakal ganti laptop lah. Saya udah mulai mencari pengganti yang tepat untuk Netty. Spesifikasi saya ga muluk amat. Ga lebih dari 10 inci, prosesor minimal 2 Ghz, penyimpanan 1tb, dan yang paling penting enak buat ngetik…

…atau Macbook yang resolusinya ga lebih 10 inci :

Migrating (2)

Sampai saat ini udah sekitar 2 tahun kurang blog ini menggunakan Jekyll. Tahun ini saya berencana untuk beralih (lagi) ke Grav. Pada dasarnya mereka sama. Sama-sama mengangkat semangat open-source, simple, tapi tetap powerpooooooool.

Grav is a modern open source flat-file CMS

Grav

Ada beberapa alasan kenapa saya kembali lagi, diantaranya:

Scheduling

Kalau menggunakan Jekyll, bisa menggunakan Zapier atau TinyPress. Masalahnya blog ini harus tetap berada di GitHub. Saya ingin lebih fokus ke penulisan daripada pengaturan. Saya punya puluhan draft yang masih berserakan. Dengan adanya penjadwalan kan semuanya jadi lebih gampang.

CLBK

Sekedar info, dulu saya pertama kali menggunakan Grav sebelum beralih ke Jekyll. Dulu belum sehebat sekarang, masih harus sedikit dirty ngubek-ngubek sana sini. Kalau saya fix beralih ke Grav lagi, anggap saja CLBK, Cinta Lama Bercumbu Kembali :heart:

Manajemen

Saat ini menggunakan Jekyll saya harus bikin post di text-editor, jekyll serve di CLI, preview di browser, copas ke TinyPress, atur jadwal, push, boom!. Saat ini Grav sudah punya admin panel. Workflow jadi lebih simple. Jalankan server lokal, buka browser, login, bikin post, preview, atur jadwal, push, boom!. Perbedaannya kalo pakai Jekyll yang harus dibuka lebih banyak lagi. Sedangkan Grav cuma perlu server (xampp atau lampp), browser, dan CLI. Mungkin beda tipis tapi saya yakin flow menggunakan Grav lebih singkat lagi.

Hosting

Nah ini yang jadi kebingungan saya. Jekyll gampang karena disupport langsung oleh GitHub. Sedangkan Grav harus di server yang minimal support PHP 5.4. Walau banyak hosting gratis yang support keperluan Grav, tapi masalahnya saya kurang percaya sama kualitas mereka. Kalo GitHub kalian tahu sendiri lah gimana kualitas mereka.


Penutup

Ada penutup, macam pidato presiden. Sebagai penutup, ijinkan saya untuk sedikit bijak. Ya walaupun terinspirasi entah darimana, tapi ini penting:

Kita tidak pernah kehilangan seseorang, kita hanya ditunjukkan siapa yang benar-benar ada untuk kita.

Sebuah tweet random di timeline Twitter

Ciao~