Bendera motif catur

Banjarmasin, 7 april 2014. Gue lagi di kosan. Bersama segelas kopi dan setumpuk gorengan. Ah ga penting emang, tapi gue tulisin aja lah biar penting. Kali ini gue ga mau lucu-lucu, karena selain batuk gue yang makin kenceng, kondisi keuangan yang tragis ikut menambah kelam suasana yang lumayan bikin gue lebih milih nonton film sedih tapi ga paham apa-apa daripada ikut ketawa sama temen-temen kost-an nontonin youtube.

Beidewei, cuacanya lagi kampret. Gue berharap mataharinya cerah, agar suasananya bisa sedikit terobati saat menatap langit dikala senja. Cuacanya lagi kelam, ya walau ga terlalu kelam. Setidaknya cuaca kali ini cukup buat bikin gue milih untuk nge-spam di twitter daripada menahan batuk yang makin kencang. Ah ga guna juga hal ini di tuliskan, tapi gue tulis aja lah biar keliatan berguna.

Keren juga ya 2 paragraf bisa nulis puitis gini. Padahal biasanya gue ga bisa gitu, bahkan ga pernah mungkin. Oh iya, gue lagi nontonin youtube, karena mendadak tertarik sama kata ‘start’. Bisa di bilang start ini permulaan, langkah awal, dan biasanya ini menentukan finish kita gimana. Misalnya aja kalo mau boker, start-nya ya ke toilet dulu, emang ada yang boker di aula. Bisa aja sih boker di aula, aula yang isinya kloset semua.

Menarik ya. Temen gue banyak yang bilang perjuangan saat di tengah yang menentukan, tapi menurut gue langkah awal juga memegang peranan penting. Contoh paling gampang, balapan. Kalo start jelek, susah buat mengambil tempat paling depan. Intinya adalah langkah awal itu penting. Perjuangannya itu utama, dan finishnya itu cuma hasil. Pasti sangat indah kan kalo kalian memulai dengan baik, berjuang dengan sekuat tenaga, dan akhirnya mendapatkan hasil yang pantas.

Yang gue tekankan disini adalah mulailah segalanya dengan baik. Kalo kamu merasa ga yakin untuk memulai, jangan memilih untuk berjuang, apalagi berharap mencapai akhir dengan indah. Sama aja ibarat kamu mau berperang, tapi takut mati dan akhirnya malah berperang seperti pecundang.

Beidewei, saat gue nulis post ini, gue berusaha mengingat pertanyaan temen gue yang mungkin udah lama, gue lupa. Dia nanya dengan simple, “Yar, ibu kamu apa kabar ?”. Gue cuman senyum saat itu, dan bilang beliau baik-baik aja. Jadi kangen sama keluarga, padahal baru beberapa minggu yang lalu gue masih tidur bareng adik gue. Dihiasi dengan igoan dia yang teriak mau minjam hape buat main game yang dia sebut permainan buah.

Buat gue, keluarga itu nomor 2, setelah Tuhan. Mereka seperti rumah, mereka seperti cahaya, mereka seperti obat, pokoknya mereka segalanya. Mungkin gue lebih milih ga kuliah selama seminggu buat nemenin adik gue kalo dia lagi sakit. Ya walaupun bokap gue sering marah kalo tahu gue pengen pulang, dan akhirnya gue cuma bisa bicara lewat telepon, sambil berharap dia sembuh. Soalnya adik gue kalo lagi sakit, gue adalah orang pertama yang dia cari. Ga peduli mainan apapun yang bisa dia dapatkan, gue pasti yang dia cari lebih dulu.

Ah udah lah ya. Gue ngantuk, sayangnya setumpuk cucian yang ada masih menahan gue untuk tidur. Semoga aja segelas kopi dan setumpuk gorengan cukup buat bekal gue melalui setidaknya setengah hari lagi. Dan mengenai judul post ini, ga tau lah. Gue bingung mau bikin judul apa. Setelah kelar nulisnya, yang terpikir cuma ini, jadi yasudahlah. Ciao